Selasa, 05 Oktober 2010

Laporan praktikum teknologi benih

kegiatan praktikum teknologi benih memang praktikum yang sangat menyenangkan. kegiatannya malah tidak seperti praktikum melainkan seperti melakukan permainan anak playgroup atau anak TK jaman masih mida dulu. Namun setelah kegiatan praktikum hal yang paling merepotkan dan bikin pusing adalah pembuatan laporan praktikumnya. mengapa bisa demikian?karena setiap kali membuat laporan praktikum ada proses revisi, jadi jika ada kesalahan dalam format tulisan maupun hanya sekedar masalah redaksional saja, laporan harus dibuat ulang. nyebelin juga sih, tapi exited juga menurutku. masalahnya itu tiap kali ngeprint laporan kan menggunakan kertas bagus, jadi berat diongkos gitu bagiku. Soalnya tidak mempunyai fasilitas printer apalgi anak kosan. Ya biasalah mripit-mripit uang sakunya, termasuk yang nulis ini. hehehehe. tiap kali ngeprint tugas atau laporan musti ngeluari uang, kan laporan tidak hanya satu tok, banyak banget kegiatan praktikum yang lain. jadi bisa ditotal dong berapa banyaknya budget yang harus dikeluarin. mungkin hasil laporan praktikum teknologi benih yang beberapa bulan lalu saya buat ini bermanfaat bagi teman-teman senasib seperjuangan dimanapun berada.

I. Pengujian Berat 1000 Benih dan Kemurnian Benih
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Benih sebagai salah satu bahan dasar dalam budidaya tanaman memegang peranan yang sangat penting baik dalam memperbanyak tanaman maupun dalam mendapatkan produk hasil tanamannya. Benih sebagai komoditi perdagangan dan sebagai unsur baku yang mempunyai peranan penting dalam produksi pertanian. Benih bermutu dengan kualitas yang tinggi selalu diharapkan oleh petani. Oleh karena itu, benih harus selalu dijaga kualitasnya sejak diproduksi oleh produsen benih, dipasarkan hingga sampai di tangan petani untuk proses penanaman. Untuk menjaga kualitas benih tersebut, maka peranan pengujian benih menjadi sangat penting dan harus dilakukan terhadap benih baik ditingkat produsen benih, pedagang benih maupun pada tingkat petani.
Pengujian benih tersebut bertujuan untuk mengkaji dan menetapkan nilai setiap contoh benih yang perlu diuji selaras dengan faktor kualitas benih. Namun banyaknya spesies/varietas tanaman yang beraneka ragam ada kecenderungan benih akan tercampur antara yang satu dengan yang lainnya. Untuk menjamin penggunaan benih yang benar – benar murni, bersih dan tidak tercampur dengan bahan lainnya, salah satunya adalah dengan melakukan pengujian kemurnian benih.
Kemurnian benih merupakan persentase dari berat benih murni yang terdapat dalam suatu contoh benih. Faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas benih dapat ditentukan melalui persentase dari benih murni, benih tanaman lain, biji herba, kotoran yang tercampur, daya berkecambah dan kecepatan berkecambah, daya tumbuh benih, benih terbebas dari hama dan penyakit tanaman, kadar air benih serta hasil pengujian berat benih per seribu biji benih.

Pengujian kemurnian benih merupakan serangkaian kegiatan yang berfungsi untuk menelaah tentang kepositifan fisik komponen – komponen pada benih. Hal – hal yang termasuk kepositifan fisik benih tersebut adalah persentase berat dari benih murni, benih tanaman lain, benih dari varietas lain, biji – bijian herba dan kotoran – kotoran yang terdapat pada masa benih.
Benih murni yang merupakan salah satu komponen dalam pengujian benih, sangat penting dalam menghasilkan benih yang berkualitas tinggi. Pada pengujian daya berkecambah, benih yang diuji diambil dari fraksi benih murni. Dengan demikian hasil pengujian kemurnian benih dan daya kecambah benih mempengaruhi nilai benih untuk tujuan pertanaman. Pengujian kemurnian digunakan untuk mengetahui komposisi contoh kerja, kemurnian, dan identitasnya yang akan mencerminkan komposisi lot benih yang didasarkan pada berat komponen pengujian.
Sedangkan pengujian berat seribu benih merupakan serangkaian kegiatan untuk menelaah berat benih, sehingga dapat ditentukan berat minimal dan berat maksimal benih yang diuji. Selanjutnya berat benih ini dibandingkan dengan standar berat benih dari deskripsi yang sudah ada, maka akan diketahui mutu benih yang dilakukan pengujian tersebut.
2. Tujuan
Dalam pelaksanaan praktikum pengujian berat 1000 benih dan kemurnian benih ini bertujuan untuk :
a. Untuk mengetahui kualitas benih ditinjau dari berat 1000 benih
b. Untuk mengetahui kualitas benih ditinjau dari tingkat kemurnian fisik




B. TINJAUAN PUSTAKA
Benih merupakan biji tanaman yang dipergunakan untuk keperluan pengembangan usahatani dan mempunyai fungsi agronomis. Benih yang bermutu adalah benih yang telah dinyatakan sebagai benih yang bekualitas tinggi. Benih yang baik dan bermutu akan sangat menunjang dalam peningkatan produknya baik dari segi kuantitas maupun kualitas (Kartasapoetra, 1986).
Pengujian benih khususnya dalam pengujian kemurnian benih merupakan kegiatan – kegiatan untuk menelaah tentang kepositifan fisik komponen – komponen benih termasuk pula persentase berat benih murni (pure seed) yang meliputi semua varietas dari setiap spesies yang diakui bagaimana yang dinyatakan oleh pengirim atau yang ditemukan dalam pengujian di laboratorium (Justice, 2002).
Usaha pemurnian benih juga memudahkan pengawas benih dalam pekerjaannya mengamati tingkat kemurnian suatu kegiatan dalam produksi benih maupun analisis benih di laboratorium untuk menguji kemurnian fisik benih. Bagi pengujian benih, beratnya contoh kerja untuk masing – masing benih telah ada ketentuannya, kecuali untuk beberapa benih tertentu. Dalam pelaksanaan pengujian kemurniaan benih dimana komponen – komponen telah berhasil dipisahkan, kemudian yang merupakan hasil uji benih murni, benih tanaman lain atau varietas lain, biji-bijian herba serta benda-benda mati atau kotoran, selanjutnya masing – masing harus ditimbang dengan seksama dengan contoh kerja dalam satuan gram (Anonim, 2007).
Daya berkecambah suatu benih dapat diartikan sebagai mekar dan berkembangnya bagian – bagian penting dari suatu embrio suatu benih yang menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh secara normal pada lingkungan yang sesuai. Dengan demikian pengujian daya kecambah benih ialah pengujian akan sejumlah benih, berupa persentase dari jumlah benih tersebut yang dapat atau mampu berkecambah pada jangka waktu yang telah ditentukan (Danuarti, 2005).
C. METODE PRAKTIKUM
1. Waktu dan Tempat praktikum
Dalam pelaksanaan praktikum pengujian berat 1000 benih dan kemurnian benih ini dilaksanakan di Laboratorium Ekologi Manajemen dan Produksi Tanaman ( Lab. EMPT) Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tanggal 12 April 2010 pukul 15.00 – 17.30 WIB.
2. Alat dan bahan
a) Bahan - bahan :
1. Benih padi
2. Benih kacang hijau
3. Benih cabai
4. Benih tomat
5. Benih kedelai
b) Alat – alat :
1. Timbangan
2. Cawan Petri
3. Kalkulator
3. Cara Kerja
a. Pengujian berat 1000 benih :
1. Timbang 1000 benih dan diulang lima kali
2. Hitung berat 1000 benih dan standar deviasinya
3. Tentukan berat 1000 benih maksimum dan minimumnya
b. Pengujian kemurnian benih
c. Amati kemurnian benih dengan cara :
1. Ambil contoh benih 400 gram
2. Ambil 40 gram dari contoh benih
3. Dari 40 gram contoh ini dilakukan pemisahan terhadap : benih murni, benih tanaman lain atau varietas lain, biji – bijian herba dan kotoran atau benda mati. Timbang dari masing – masing bagian dengan ketelitian dua decimal
4. Untuk mengetahui identitas benih tanaman lain, sisa contoh benih yang 360 gram tadi, diperiksa kembali selanjutnya dijumlah dengan hasil perhitungan dari contoh 40 gram
5. Tiap komponen yang diperoleh dari contoh 40 gram dinyatakan dalam persentase
6. Selisih berat antara contoh benih pengujian semula dengan jumlah berat ke empat komponen harus kurang dari 1%. Komponen yang kurang dari 0,05% dinyatakan sebagai jumlah yang terlalu sedikit (trace)
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Pengamatan
Tabel 1. 1 Hasil pengamatan 1000 benih
Ulangan Berat 1000 benih | Y – Ý |
1 155 0,89
2 169 13,11
3 157 1,41
4 149 6,89
5 142 13,89
6 150,4 5,49
7 139 16,89
8 160 4,11
9 186 30,11
10 151,5 4,39
Jumlah 1558,9 96,88
Rata – rata 155,89 9,688

Sumber : Laporan Sementara
SD = = = = = 3,23
SD max = y + SD = 155,89 + 3,23 = 159,12
SD min = y + SD = 155,89 - 3,23 = 152,66




Tabel 1.2 Hasil pengamatan kemurnian benih
Ulangan Berat benih murni (gr) Berat tanaman lain Berat biji herba (gr) Berat benda mati (gr)
40 gr 360 gr
1 305,93 8,52 74,35 - 11,2
2 282,06 8,3 101,18 - 8,46
3 324,7 14,5 33,9 - 1,4
4 309,32 8,5 79,21 - 6,18
5 312,9 12,5 79,83 - 0,8
6 344,5 4,65 50,2 - 1,1
7 331,9 7,9 59,1 - -
8 343,7 3,7 52,6 - -
9 251,71 5,05 56,08 - -
10 305,53 10,32 77,15 - 0,76
Rata2 311,225 8,394 66,36 - 4,27
Sumber : Laporan Sementara
Berat benih murni = a/400 x 100% = 311,225/400 x 100% = 77,81%
Berat tanaman lain ( 40 g) = b/40 x 100% = 8,394/40 x 100% = 20,98%
Berat tanaman lain (360 g) = c/360 x 100% = 66,36/360 x 100% = 18,43%
Berat biji herba -
Berat benda mati = e/400 x 100% = 4,27/400 x 100% = 1,07%
2. Pembahasan
Berdasarkan tabel 1. 1 di atas, diperoleh hasil penghitungan standar deviasi rata – rata berat 1000 benih yaitu 3,23. Sedangkan standar deviasi maksimal dan minimal berturut – turut yaitu 159,12 dan 152,66. Perhitungan dari standar deviasi perlu diketahui, karena erat kaitannya dengan perhitungan berat maksimal benih maupun berat minimal benih. Selain itu standar deviasi juga akan mempengaruhi tingkat kemurnian benih. Hasil perhitungan standar deviasi seharusnya tidak boleh lebih dari 1%. Jika hasil yang diperoleh lebih dari 1%, maka tingkat kemurnian benih tersebut dapat dikatakan rendah.
Berdasarkan data pada tabel 1. 2 didapatkan informasi mengenai tingkat kemurnian pada benih. Dari 400 gram benih yang digunakan untuk praktikum didapatkan tingkat kemurnian benih utama yaitu 77,81%. Hal tersebut berarti dapat dikatakan bahwa dari 400 gram benih yang disediakan, tingkat kemurnian benih inti hanya 77,81%, sisanya merupakan kontaminan yang bisa berasal dari benih tanaman lain, benih herba, kotoran/sisa tanaman, dll. Dari berat 40 gram benih yang dianalisis, terdapat 20,98% tanaman lain. Hal itu menunjukkan bahwa dari 40 gram benih tersebut mempunyai tingkat kemurnian benih sebesar 79,02%. Sedangkan untuk benih 360 gram, didapatkan 18,43% merupakan berat tanaman lain/kontaminan. Sesuai data tersebut berarti dari 360 gram berat benih, tingkat kemurnian benih inti sebesar 81,57%.
Pada dasarnya kegiatan pemurnian benih bertujuan untuk membuang benih spesies lain yang berbeda dengan spesies yang diproduksi dan bahan-bahan pengotor serta memilih benih murni dari benih – benih yang kecil, berwarna tidak normal dan benih – benih yang tidak sehat lainnya. Pemurnian benih tidak dapat dilakukan dengan sembarangan karena masing-masing kelompok benih mempunyai masalah yang harus dianalisis dan dipecahkan dengan menggunakan perangkat mesin dengan cara yang benar. Untuk benih yang sedikit pengayakan dapat dilakukan tetapi pada benih yang banyak harus dilakukan dengan mesin penampi. Ketika dibersihkan, benih harus dipisahkan dari kontaminan seperti tanah, debu dan sekam serta benih yang inferior, yaitu benih yang diluar dari ukuran sebagaimana lazimnya, keriput, retak – retak maupun berpenyakit (Rineka, 1986).
Pengujian kemurnian benih biasanya dilakukan secara duplo. Beda antara hasil ulangan pertama dan kedua tidak boleh lebih tinggi atau lebih rendah dari 5%. Dalam uji kemurnian benih sampel benih yang telah ditentukan ditimbang beratnya terlebih dahulu, kemudian dipisah – pisahkan atas komponen yang ada yaitu benih murni, benih spesies tanaman lain, benih gulma dan kotoran lainnya (Anonim, 2008)
Untuk memisahkan sampel benih dari kotoran fisik yang lebih ringan dari benih dapat menggunakan seed blower. Setiap komponen yang telah berhasil dipisahkan selanjutnya masing – masing ditimbang, kemudian ditotal. Untuk menghindari adanya kekeliruan dalam menghitung kemurnian benih, maka total berat semua komponen dibandingkan dengan berat awal sampel benih yang diuji. Berat total dari semua komponen seharusnya sama dengan berat awal sampel benih yang diuji, tetapi bisa juga kurang/lebih. Kegiatan terakhir dari pelaksanaan uji kemurnian benih adalah menghitung persentase dari setiap komponen benih yang diuji. Seperti benih spesies lain, gulma dan kotoran lain memiliki nilai rendah (Coppelan, 1985).
Dalam perhitungan kemurnian benih dipengaruhi oleh komponen hasil pengujian benih. Apabila berat sampel benih kurang dari 25 gram, maka perhitungan persentase berat masing – masing komponen dengan membandingkan terhadap keseluruhan berat semua komponen (bukan terhadap berat sampel benih yang diuji), yang kemudian dikalikan dengan 100%. Jika tingkat kemurnian benih itu rendah, maka juga akan berpengaruh dalam keseragaman tumbuh di lapangan yang juga akan rendah. Hal tersebut dapat terjadi karena dimungkinkan benih yang digunakan tercampur oleh spesies tanaman lain, gulma atau kotoran lainnya sehingga akan berpengaruh pada waktu panen yang tidak serentak dan produk yang dihasilkan tidak akan seragam/tidak sesuai dengan yang diharapkan (Kamil, 1979).












E. PENUTUP
1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah :
a) Pengujian berat 1000 benih bertujuan untuk menelaah berat minimal dan berat maksimal benih, sehingga bisa diketahui berapa besarnya standar deviasi pada benih.
b) Kemurnian benih merupakan persentase dari berat benih murni yang terdapat dalam suatu contoh benih.
c) Kualitas dari benih dapat ditentukan melalui persentase dari benih murni, benih tanaman lain, biji herba, kotoran yang tercampur, daya berkecambah dan kecepatan berkecambah, daya tumbuh benih, benih terbebas dari hama dan penyakit tanaman, kadar air benih serta hasil pengujian berat benih per seribu biji benih.
d) Pengujian kemurnian benih biasanya dilakukan secara duplo/ulangan
e) Jika tingkat kemurnian dari benih rendah maka akan menyebabkan tingkat keseragaman di lapangan yang juga akan rendah, sehingga berpengaruh terhadap waktu panen yang tidak serentak.
2. Saran
a. Alat – alat yang mendukung kegiatan praktikum, seperti timbangan digital perlu ditambah lagi sehingga tidak saling berebut.
b. Jadual praktikum yang sebenarnya bertepatan dengan waktu salat, sebaiknya mengijinkan praktikan untuk melaksanakan salat dahulu, di sela – sela kegiatan praktikum.
c. Untuk Co-ass sebaiknya juga memahami materi yang diujikan dalam kegiatan praktikum, seperti perhitungan standar deviasi yang lebih jelas. Jadi praktikan tidak mengalami kebingungan selama proses perhitungan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Teknik pemilihan benih yang baik. www.google.go.id. Diakses pada tanggal 14 April 2010.
Anonim. 2008. Pengadaan Benih. www.wikipediaindonesia.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.
Copeland. L.O. dan M.B. Mc. Donald. 1985. Principles of Seed Science and Technology. Burgess Publishing Company. New York.
Danuarti. 2005. Teknik Budidaya Pertanian. Jurnal Kementrian Negara Riset dan Teknologi Tanggal 27 Desember 2003. Jakarta.
Justice. 2002. The Life of The Green Plant. The Mc. Millan Inc. New York.
Kamil, J. 1979. Teknologi Benih 1. Padang : Penerbit Angkasa Raya.
Kartasapoetra, Ance G. 1986. Teknologi Benih. Jakarta : Radar Jaya Offset.
Rineka Cipta. 1986. Teknologi Benih, Pengolahan benih dan tuntunan praktikum. Jakarta : Rineka Cipta.


II. Pengujian Kadar Air Benih
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kadar air benih merupakan salah satu komponen yang harus diketahui baik untuk tujuan pengolahan, maupun penyimpanan benih. Telah diketahui bahwa kadar air memiliki dampak besar terhadap benih selama penyimpanan. Menyimpan benih ortodok pada kadar air tinggi berisiko cepat mundurnya benih selama dalam penyimpanan. Kadar air biji atau benih berfungsi untuk menentukan saat panen yang tepat dan saat penyimpanan benih. Pemanenan harus dilakukan pada tingkat kadar air biji tertentu pada masing – masing spesies atau varietas. Umumnya tanaman padi – padian dan biji – bijian dipanen pada kadar air biji sekitar 20%. Kadar air 30% merupakan kadar air tertinggi untuk pemanenan. Agar benih dapat disimpan dengan waktu yang relatif lama, maka benih harus dikeringkan terlebih dahulu pada kadar air yang tertentu pula. Untuk jenis padi – padian kisaran kadar air mencapai 11 – 13%, sedangkan benih semangka dan melon pada kadar air sekitar 10%.
Jumlah air dalam suatu benih merupakan kadar airnya, yang diukur berdasarkan berat basah atau berat kering benihnya. Bila kadar air benih diberikan berdasarkan berat basahnya, maka jumlah airnya merupakan persentase dari berat benih sebelum airnya dihilangkan. Selama perkembangan, pemasakan dan pematangan, kadar air benih menurun perlahan – lahan hingga benih yang dipanen akhirnya mengering sampai batas yang tidak ada lagi penurunan kelembaban, karena kadar airnya telah mencapai keseimbangan dengan kelembaban nisbi lingkungan sekitarnya.
Secara garis besar cara pengujian kadar air dapat digolongkan atas metode dasar atau yang sering disebut dengan metode tungku (oven) dan metode praktik. Metode dasar adalah cara pengujian dengan menggunakan alat oven, sedangkan metode praktik adalah pengujian kadar air dengan cara menggunakan peralatan praktis.
2. Tujuan
Praktikum tentang pengujian kadar air benih ini bertujuan untuk :
a. Untuk menguji kadar air benih dengan menggunakan metode dasar
b. Untuk menguji kadar air benih dengan menggunakan metode praktis
B. TINJAUAN PUSTAKA
Kadar air adalah hilangnya berat ketika benih dikeringkan sesuai dengan teknik atau metode tertentu. Metode pengukuran kadar air yang diterapkan dirancang untuk mengurangi oksidasi, dekomposisi atau hilangnya zat yang mudah menguap bersamaan dengan pengurangan kelembaban sebanyak mungkin (ISTA, 2006). Dalam penentuan uji kadar air digunakan 2 metode oven, yaitu metode temperatur rendah 103±2°C dan metode temperatur tinggi 130 – 133°C. Kedua metode tersebut dapat digunakan dalam penentuan kadar air (Bonner, 1995).
Metode pengeringan oven telah mempertimbangkan bahwa hanya air saja yang diuapkan selama pengeringan. Namun, bagaimanapun juga senyawa yang mudah menguap mungkin ikut menguap yang akan menyebabkan hasil pengukuran over estimation. Dengan demikian, kadar air yang ditentukan dengan metode oven mungkin saja tidak merepresentasikan kadar air benih yang sesungguhnya (Poulsen, 1994). Namun, bagaimanapun juga metode pengeringan oven merupakan metode yang digunakan sebagai metode standar Pemilihan metode pengukuran kadar air yang paling tepat adalah apabila cara tersebut mampu memberikan nilai kadar air tertinggi (Justice, 1990).

Kuswanto (1997), Kadar air benih selalu berubah tergantung kadar air lingkungannya, karena benih memiliki sifat selalu berusaha mencapai kondisi yang equilibrium dengan keadaan sekitarnya. Kadar air benih yang selalu berubah sesuai dengan keadaan sekitarnya itu sangat membahayakan kondisi benih karena berkaitan dengan laju deteriorasi benih yang pada akhirnya akan berpengaruh pada persentase viabilitas benih. Untuk mengatasi masalah perubahan kadar air benih tersebut, setelah benih diproses dengan kadar air tertentu maka benih tersebut harus dikemas dengan bahan pengemas yang dapat mempertahankan kadar airnya untuk jangka waktu tertentu. Benih tersebut harus disimpan di ruangan dengan persentase RH tertentu, agar kadar airnya tetap stabil.
Penentuan kadar air benih dari suatu kelompok benih sangat penting untuk dilakukan. Karena laju kemunduran suatu benih dipengaruhi pula oleh kadar airnya (Satopo, L. 1985). Di dalam batas tertentu, makin rendah kadar air benih makin lama daya hidup benih tersebut. Kadar air optimum dalam penyimpanan bagi sebagian besar benih adalah antara 6% – 8%. Kadar air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan naiknya aktivitas pernafasan yang dapat berakibat terkuras habisnya bahan cadangan makanan dalam benih. Selain itu merangsang perkembangan cendawan patogen di dalam tempat penyimpanan. Tetapi perlu diingat bahwa kadar air yang terlalu rendah akan menyebabkan kerusakan pada embrio. Air yang terdapat dalam benih dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu air bebas dan air yang terikat. Pada perhitungan kadar air benih, yang dihitung persentasenya hanyalah air bebas, karena air inilah yang dapat bergerak bebas di dalam benih dan mudah untuk diuapkan (Anonim, 2009).

C. METODE PRAKTIKUM
1. Waktu dan Tempat Praktikum
Dalam pelaksanaan praktikum Pengujian Kadar Air Benih, dilaksanakan di Laboratorium Ekologi Manajemen dan Produksi Tanaman (Lab. EMPT) Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tanggal 12 April 2010 pukul 15.00 – 17.30 WIB.
2. Alat dan Bahan
a. Alat – alat yang digunakan, antara lain :
1. Timbangan gula
2. Oven
3. Penguji kadar air benih (eksikator)
4. Cawan porselin
b. Bahan – bahan yang digunakan :
1. Benih padi
2. Benih jagung
3. Benih kacang tanah
3. Cara Kerja
a. Metode dasar
1. Timbang cawan porselin yang telah dipanaskan dahulu (W1)
2. Timbang cawan porselin + contoh benih (W2)
3. Cawan + contoh benih dipanaskan dalam oven selama 50 menit pada suhu 130 derajat celcius
4. Cawan + contoh benih didinginkan dalam eksikator selama 45 menit (sampai dingin)
5. Menimbang cawan + contoh benih yang telah didinginkan (W3)
6. hitung persentase air yang telah dilepaskan dengan rumus
S = w2 - w3 x 100%
w2 – w1


b. Metode praktis
1. Siapkan peralatan
2. Operasikan alat sesuai dengan petunjuk yang ada
3. Hitung kadar air benih
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Pengamatan
Tabel 1. 3 Pengamatan kadar air benih metode dasar
Ulangan W1 W2 W3 W2 – W3 W2 – W1 Kadar air (%)
1 5,63 33,11 32,4 0,71 27,48 2,58
2 14,23 38,51 37,83 0,68 24,28 2,8
3 5,9 30,5 30,1 0,4 24,6 1,68
4 3,77 26,86 26,4 0,46 23,09 1,99
5 5,58 25,1 24,6 0,5 19,52 2,56
6 6,27 35,18 34,43 0,75 28,91 2,59
7 6,1 34,2 33,5 0,7 28,1 2,49
8 5,47 35,03 34,4 0,63 29,56 2,13
9 6,12 28,96 28,32 0,64 22,84 2,8
10 5,69 27,02 26,7 0,32 21,33 1,5
Χ 6,48 31,45 30,87 0,58 24,97 2,31
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 1. 4 Pengamatan kadar air metode praktik
Ulangan KA
1 9,3
2 9,2
3 9
4 8,6
5 9,7
6 8,3
7 10,8
8 8,5
9 8,6
10 8,8
X 9,08
Sumber : Laporan Sementara




2. Pembahasan
Berdasarkan data yang terdapat pada tabel 1.3 di atas, menunjukkan bahwa hasil perhitungan kadar air benih dengan menggunakan metode dasar/tungku dari 10 kelompok yang melakukan praktikum didapatkan hasil rata – ratanya sebesar 2,31%. Hal itu menunjukkan bahwa kadar air benih termasuk rendah. Benih yang mempunyai kadar air yang rendah berarti benih tersebut dalam keadaan kering, tidak terlalu basah, sehingga tidak begitu terpengaruh dengan fluktuasi suhu yang ada pada lingkungan. Semakin rendah kadar air yang dimiliki benih berarti benih tersebut kondisinya baik serta cukup mempunyai persediaan cadangan makanan untuk kelangsungan hidup benih selanjutnya.
Berdasarkan data pada tabel 1.4 menunjukkan bahwa hasil perhitungan kadar air benih dengan menggunakan metode praktis didapatkan tingkat persentase kadar air benih sebesar 9,08%. Hal tersebut berarti tingkat kadar air benih juga termasuk kecil. Kadar air yang dimiliki benih tersebut masih cukup untuk memberikan cadangan makanan bagi benih untuk tetap bisa melangsungkan hidupnya, sebelum benih tersebut ditanam.
Kadar air benih adalah jumlah air yang terkandung dalam benih. Tinggi rendahnya kandungan air dalam benih memegang peranan yang sangat penting dan berpengaruh terhadap vialibitas benih (Purwanti, 2004). Oleh karena itu pengujian terhadap kadar air benih perlu dilakukan agar benih memiliki kadar air terstandar berdasarkan kebutuhannya. Adapun tujuan dilakukan pengujian benih adalah untuk menentukan kadar air yang terdapat dalam benih (Anonim, 2008).
Kadar air benih penting untuk diperhatikan karena kadar air benih sangat berkaitan erat dan menentukan terhadap kualitas benih, daya simpan benih, daya kecambah benih serta terhadap serangan hama dan penyakit. Selain itu fungsi untuk mengetahui jumlah kadar air benih yaitu untuk menetapkan waktu panen, karena kegiatan pemanenan itu harus dilakukan pada tingkat kadar air biji tertentu pada masing-masing spesies atau varietas. Umumnya kadar air saat biji dipanen berkisar antara 16% - 20%. Umumnya tanaman serellia dan biji – bijian legume dipanen pada kadar air 20%. Umumnya kadar air biji 30% merupakan batas tertinggi untuk dipanen. Panenan dengan kadar air biji 30 % tidak baik karena sukar untuk pengiriman, disamping itu biji akan rapuh apabila dikeringkan sampai dibawah kadar air 20% tetapi tergantung pada jenis biji, ada yang baik dipanen pada kadar air 10 – 12%. Gandum dipanen pada kadar air biji 14 – 15%, kapas 12 – 14%, padi 18%, jagung 20 – 30%. Pada kisaran kadar air ini biji telah mengalami tingkat kematangan mencapai masak secara fisiologis, dimana embrio dalam biji telah terbentuk dengan sempurna, sehingga biji akan memiliki viabilitas tinggi (Kamil, 1979).
Apabila benih akan disimpan jangka waktu lama tanpa menurunkan viabilitas, maka kandungan air benih harus diturunkan hingga mencapai batas optimal, yaitu berkisar antara 6% - 12%, hal ini tergantung pada masing – masing jenis benih. Apabila benih disimpan dengan kadar air yang relatif tinggi, benih akan cepat mengalami penurunan viabilitas. Hal ini disebabkan kadar air yang tinggi, akan mempengaruhi peningkatan kegiatan enzim yang akan mempercepat terjadinya respirasi yang dapat mengakibatkan benih akan kehabisan bahan cadangan makanan. Dari respirasi benih akan menghasilkan panas dan air yang akhirnya dapat mempengaruhi kelembaban di sekitar benih menjadi tinggi (ISTA, 1999).
Benih merupakan organisme hidup bersifat equilibrium/seimbang dengan keadaan lingkungannya, sehingga benih sangat mudah menyerap uap air sampai akhirnya kandungan air benih seimbang dengan sekitarnya. Dengan kelembaban yang tinggi sangat mendukung akan terjadinya perkecambahan benih lebih cepat hingga benih tumbuh sebelum ditanam. Di samping itu kelembaban tinggi pada lingkungan sekitar benih merupakan tempat yang cocok bagi kehidupan organisme, patogen yang mudah merusak benih. Begitu juga sebaliknya, apabila kadar air benih terlalu rendah (0 – 5%), pada beberapa jenis benih dapat menyebabkan benih kehilangan vialibitas oleh akibat rusaknya jaringan sel dalam benih mengkerut sehingga benih tidak dapat tumbuh dengan baik (Kamil, 1979).
Kadar air benih selama penyimpanan merupakan faktor yang paling mampengaruhi masa hidupnya. Oleh karena benih yang sudah masak dan cukup kering penting untuk segera dipanen atau benihnya masih berkadar air tinggi yang juga harus segera dipanen. Benih jika terlalu kering atas kadar airnya, juga akan membahayakan benih. Benih yang sangat kering tersebut akan menjadi sangat peka terhadap kerusakan mekanis serta pelukan sampingan lainnya. Kerusakan seperti itu dapat menyebabkan bagian penting benih mengalami pecah atau retak pada bagian penting biji, hingga benih tersebut peka terhadap serangan cendawan yang dapat menurunkan daya simpannya (Oren L.Justice dan Louis N.Bass, 1979).
Umumnya pada tanaman legume dan padi – padian, ovule atau tepatnya embryo sac yang sedang mengalami pembuahan mempunyai kadar air kira – kira 80 % dalam bebarapa hari kemudian kadar air ini meningkat sampai kira – kira 85% lalu pelan – pelan menurun secara teratur. Dekat kepada waktu masak kadar air ini menurun dengan cepat sampai kira – kira 20% pada biji tanaman sereallia, setelah tercapai berat kering maksimum dari pada biji, kadar air tersebut agak konstan sekitar 20% tetapi sedikit naik turun seimbang dengan keadaan lingkungan di lapangan (Hamman ett all, 2001).
Pengujian kadar air benih dilakukan secara duplo/kembar, sehingga nilai akhir persentase kadar air benih yang diambil adalah hasil rata-rata dari nilai persentase kadar air kedua ulangan. Perbedaan dari hasil ulangan pengujian tidak lebih boleh dari 0,2%. Apabila diperoleh perbedaan lebih besar dari 0,2% maka pengujian harus diulang lagi. Jika pengujian menggunakan metode oven 130 0C sesuai dengan berat yang ditentukan berdasarkan jenis benih, misal benih kacang kedelai adalah 100 gram. Untuk benih – benih yang dalam keadaan basah, sebaiknya dikeringkan terlebih dahulu pada sinar matahari sampai didapatkan kadar air di bawah 20%. Benih dihancurkan terlebih dahulu dengan penggiling kemudian disaring. Untuk benih-benih yang memiliki kandungan minyak yang tinggi hendaknya tidak dihancurkan, sebab akan berakibat terjadi oksidasi pada minyak yang akan mempengaruhi berat benih. Sampel benih yang telah digiling halus ditimbang sebanyak 4 – 5 gram, lalu dimasukkan ke dalam wadah yang sebelumnya dipanasi terlebih dahulu secara merata. Kemudian wadah ditutup lalu ditimbang. Benih yang terdapat dalam wadah dengan penutup disimpan pada bagian dasar wadah dipanaskan dalam oven yang bertemperatur 130 0C selama 50 – 90 menit. Untuk benih – benih keras dapat dilakukan selama 130 menit pada suhu 130 0C. Pemanasan terhitung mulai dari saat oven mencapai 130 0C. Setelah mencapai waktu yang ditentukan wadah beserta benih dikeluarkan dari oven dan ditutup secepatnya lalu didinginkan dalam desikator selama 10 – 20 menit kemudian ditimbang. Hasil pengujian kadar air benih kemudian dihitung persentase kadar airnya. Pengaruh kadar air tinggi akan menyebabkan daya kecambah rendah. Kadar air tinggi sangat mempengaruhi respirasi semakin cepat yang dapat menghasilkan panas dan air yang dapat mempengaruhi kelembaban di sekitarnya. Dengan kelembaban tinggi mendukung terjadinya perkecambahan sebelum benih ditanam (Satopo, 2002).








E. PENUTUP
1. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum pengujian kadar air ini antara lain :
a) Untuk menguji jumlah kadar air benih digunakan metode dasar/tungku dan metode praktis.
b) Pengujian kadar air benih ini bertujuan untuk mengetahui waktu yang tepat untuk pemanenan. Selain itu penentuan kadar air benih berfungsi dalam proses pengolahan maupun pada saat penyimpanan.
c) Kadar air benih selalu berubah sesuai dengan suhu lingkungan.
d) Pada umumnya kadar air benih pada saat panen antara 16 – 20 %.
e) Jika benih mempunyai kadar air yang tinggi, maka memiliki daya berkecambah yang rendah. Sebaliknya jika benih mempunyai kadar air yang rendah akan lebih tahan lama saat proses penyimpanan.
f) Benih yang mempunyai kadar air yang sangat rendah juga dapat meningkatkan kerusakan bagian penting dari benih.
2. Saran
a) Alat – alat yang menunjang kegiatan praktikum sebaiknya ditambah, sehingga tidak saling berebut untuk menggunakan.
b) Oven sebaiknya dicek terlebih dahulu berfungsi atau tidak, sehingga proses pengovenan tidak terhambat.
c) Jika sudah waktunya untuk salat, praktikan sebaiknya diijinkan dahulu untuk melaksanakan salat di sela – sela kegiatan praktikum.






DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2008. Pengadaan Benih. www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.
Anonim, 2009. Pengukuran Kadar Air Benih. www.renhaz.com. Diakses pada tanggal 15 April 2010.
Bonner, F. T. 1995. Measurement and Management of Tree Seed Moisture. Technical Note. No. 1. Danida Forest Seed Centre.
Hamman. B. ; H. Halmajan and D.B. Egli. 2001. Sigle Seed Conductivity and Seedling Emergence in Soybean. Seed Science and Technology. 29. 575-586.
ISTA. 1999. International Rules for Seed Testing: Rules 1999. Seed Science and Technology; Suplement. Zurich. Switzerland.
ISTA. 2006. International Rules for Seed Testing: Edition 2006. The International Seed Testing Association. Bassersdorf. CH-. Switzerland.
Justice, O.L., dan Louis, N.B. 1979. Prinsip Dan Praktek Penyimpanan Benih. Jakarta : Rajawali. 446 hal.
Justice. 1990. The Life of The Green Plant. The Mc. Millan Inc. New York.
Kamil, J. 1979. Teknologi Benih 1. Padang : Penerbit Angkasa Raya.
Kuswanto, H. 1997. Analisis Benih. Jakarta : Grasindo.
Setyastuti Purwanti. 2004. Ilmu Pertanian Vol. 11 No.1. halaman : 22-31.
Satopo, L. 1985. Teknologi Benih. Jakarta : CV. Gramada.
Satopo, L. 2002. Teknologi Benih. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Ya, semoga saja memberikan manfaat bagi yang membaca blog saya ini.
Jazakillah

3 komentar:

  1. kadar air .... http://www.renhaz.com/?cat=48

    BalasHapus
  2. makasih, laporannya sangat membantu... hehehe
    mbak, saya pake namax adi daftar pustaka ya,, hehehe

    mbak, follback ya..
    salam knal..
    ^^

    BalasHapus
  3. itu cara menghitung 1000 butir nya bagaimana?

    BalasHapus